EKSPEDISI NKRI 2014: Pengabdian Beralaskan Tanah, Beratapkan Bintang (Bagian 2)


Pulau Buru Tempat Kami Mengabdi

Gugusan pulau dari atas langit terlihat indah walaupun hanya terlihat dari bingkai jendela bundar pesawat Hercules yang saya tumpangi. Sambil merebahkan diri di tumpukan tas-tas lapangan, saya mencoba mengambil gambar menggunakan kamera pocket yang sudah saya siapkan untuk ekspedisi ini. Sambil memandangi permukaan Bumi dari atas langit, saya mulai menyadari bahwa pesawat Hercules ini akhirnya terbang rendah. Itu berarti tanda bahwa pesawat ini hampir mencapai bandara. Kamera pocket saya tersebut saya simpan terlebih dahulu sambil lanjut memandangi pulau-pulau Maluku

Pesawat Hercules segera landing di Landasan Udara Pattimura Pangkalan TNI AU. Kami sampai di Pulau Ambon sekitar sore hari. Perjalanan panjang tersebut justru membuat peserta Ekspedisi NKRI 2014 yang menggunakan pesawat Hercules tersebut terlihat lelah. Beberapa orang ada yang melaksanakan Sholat Zhuhur sambil menjama’ Sholat Ashar. Kami tidak terlalu lama berada di Ambon, karena kami harus berada di lokasi sub korwil masing-masing untuk mengkoordinasi kegiatan yang akan direncanakan. Kami langsung menggunakan kapal penyebrangan menuju ke Pulau Buru yang akan berangkat sore ini. Keberangkatan kami menggunakan truk menuju ke pelabuhan diiringi dengan turunnya hujan di Ambon. Tas-tas segera kami angkut ke dalam kapal sambil diguyur hujan. Beberapa dari kami mendapatkan ruang tidur Eksekutif selama perjalanan satu malam menyebrangi laut Banda yang sangat bergelombang. Kapal bergoyang kencang sehingga membuat saya yang ingin sholat tidak bisa berdiri tegak. Banyak yang lebih dulu tidur akibat mabuk laut. Saya pun merasa pusing dan mual akibat goncangan besar tersebut. Malam itu pun akhirnya saya segera langsung tidur sambil menahan pusing di kepala.

Perjalanan satu malam itu berakhir. Kami segera bergegas mengangkat segala perlengkapan kami untuk dibawa ke mess Kodim 1506 di Namlea. Anggota Ekspedisi NKRI Subkorwil 3/Namlea menginap sementara sampai keberangkatan kami ke Pos Kotis yang lokasinya masih belum diketahui.

Gambar 1. Anggota Ekspedisi NKRI Subkorwil 3/Namlea sebelum menuju ke Pos Kotis.

1 Maret 2014, tanggal pemberangkatan kami menuju Pos Kotis yang berada di Desa Waetabi. Perjalanan selama 3 jam lebih itu menggunakan bus milik pemda setempat, dan lamanya perjalanan tentunya membuat beberapa dari kami mengantuk. Ketika kami terbangun dari lelahnya perjalanan, tiba-tiba kami berada di suatu lapangan kosong yang kering dengan beberapa rumah di sisi yang cukup jauh dari pos kotis kami. Di sana kami sudah ditunggu oleh Bapak Raja, Kepala Soa, Kepala Desa setempat dan lainnya. Pengenalan tersebut membuat kami sedikit lebih tahu mengenai lokasi tinggal kami dan Pulau Buru itu sendiri. Selesai percakapan yang cukup panjang, akhirnya kami segera menempati tenda yang akan kami tinggali selama lebih dari 3 bulan. Cerita yang sebenarnya akan segera dimulai.

Hari pertama dan beberapa hari setelahnya masih belum terasa nyaman bagi saya. Namun, semua hal itu bisa dinikmati asalkan itu berbau petualangan. Di sana kami penuh dengan aktivitas seperti piket memasak, membuat laporan, main game (wajarlah anak muda butuh hiburan), tanding bola voli (setelah dibangunnya lapangan voli atas inisiatif tim Subkorwil 3/Namlea), mandi di sungai, tidur di bawah bambu rindang, dan lain-lain. Setelah tahu lokasi pos kotis kami, kami pun jadi lebih sering jalan-jalan keluar lokasi pos kotis untuk mencari bahan makanan di Desa Wamlana yang cukup dekat sekitar 4-5 km. Apalagi menikmati es pisang ijo yang selalu menjadi favorit kami setelah seharian kepanasan di tenda yang terasa seperti tempat sauna. Sehari, seminggu, sebulan, ternyata sudah banyak cerita yang kami lalui pada waktu tersebut. Di sana kami mendatangi desa-desa yang ternyata memiliki pemandangan yang indah dengan orang-orang yang ramah, tapi tetap saja ada rasa tidak enaknya di sana. Nanti kalian akan mengetahui bagaimana tidak enaknya.

 Gambar 2. Pos Kotis Ekspedisi NKRI Subkorwil 3/Namlea di Desa Waetabi.

Gambar 3. Kegiatan bertanding bola voli dengan warga Desa Waetabi.


Perjalanan pertamaku saat itu adalah ke Desa Bara. Barang sudah kami persiapkan, jadi kami langsung berangkat menggunakan truk bersama tim penelitian geologi, potensi bencana, sosial budaya dan tim komunikasi sosial. Tim penjelajah berangkat terpisah dengan tim lain. Laptop dan kamera sudah masuk ke dalam tas, dan truk pun mulai berangkat. Perjalanan yang cukup panjang di atas truk tentunya sangat panas dan membuat kami cepat dehidrasi. Untunglah perjalanan ini tidak membuat kami pingsan karena panorama yang terlihat selama perjalanan kami menuju desa tujuan. Tim komunikasi sosial dan tim peneliti sosial budaya turun di Desa Bara yang berada di Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru.

Sore hari di Desa Bara, beberapa orang dari tim komunikasi sosial dan tim peneliti sosial budaya diminta untuk memantau ke Dusun Waeruba yang berjarak kurang lebih 10 km dari Desa Bara. Sisa dari kami mengecek keadaan di Desa Bara sambil melakukan wawancara dengan penduduk setempat. Teman kami ada yang melakukan wawancara dengan ketua adat Desa Bara yang masih fasih berbahasa Jepang. Beliau merupakan seorang koki yang melayani tentara Jepang. Beliau juga merupakan seorang keturunan sultan dari Ternate. Beliau mengaku bahwa saat ini umurnya sudah mencapat 100 tahun, namun beliau lupa dengan tanggal kelahirannya. Perbincangan saat itu menggunakan bahasa Ambon yang tidak dimengerti oleh teman kami dari Jawa, namun teman kami dari Universitas Pattimura mencoba menggali lebih dalam apa yang menjadi pengalaman sang ketua adat pada masa lalunya. Perbincangan tersebut tentunya membuat beberapa orangnya pasti takjub mendengarnya.

Gambar 4. Perjalanan menuju ke Dusun Waeruba.

Sesaat setelah sholat Maghrib, teman kami baru saja tiba kembali ke Desa Bara setelah dari Dusun Waeruba. Beberapa momen didokumentasikan oleh teman kami yang telah menuju ke sana. Banyak hal yang menjadi perhatian kami, salah satunya yaitu tidak adanya MCK. Di desa tersebut masih belum terdapat WC umum, bahkan masih ada beberapa rumah yang belum memiliki fasilitas MCK. Dari foto-foto yang telah didokumentasikan tersebut, kami berharap bisa membawa perubahan juga untuk Dusun Waeruba.

Permasalahan yang kami temukan ini tidak hanya ditemukan di Dusun Waeruba saja, namun bisa ditemukan di desa-desa lainnya di Kecamatan Air Buaya dan kecamatan lainnya. Keadaan ini tentunya menjadi PR besar bagi pemda setempat untuk melakukan pembangunan di daerah-daerah yang tertinggal, dan kami sebagai tim Ekspedisi NKRI bertugas untuk memantau apa-apa saja yang ada di Pulau Buru tempat kami mengabdi.

 
 Gambar 5. Lingkungan Dusun Waeruba yang dikabarkan bahwa tidak ada fasilitas MCK di setiap rumahnya.

Setelah Kecamatan Air Buaya, kami juga mendatangi Kecamatan Fena Leisela yang baru satu tahun terbentuk. Persebaran wilayah ini dari pesisir utara Pulau Buru sampai dengan pedalaman Danau Rana. Desa-desa yang kami lihat saat itu di pesisir benar-benar lebih baik dan maju daripada desa-desa lainnya yang berada di pedalaman Danau Rana. Cakupan wilayah yang besar ini membuat kami butuh waktu lebih lama untuk melakukan pendataan mengenai kekurangan wilayah ini. Perjalanan kami yang pertama tentunya desa-desa yang berada di pesisir, seperti Desa Wamlana, Desa Balbalu, Desa Waspait, Desa Wainibe dan masih banyak lagi yang belum tentu bisa disebut semuanya. Desa-desa yang kami datangi ini ada yang beragama Islam keseluruhannya, seperti di Desa Waspait, dan ada yang beragama Kristen keseluruhannya juga, seperti di Desa Wainibe. Namun, di kecamatan ini juga terdapat penganut agama Hindu di pedalaman Danau Rana. Perjalanan ke Danau Rana ini yang akan kami lakukan seminggu setelah pendataan kami di pesisir Kecamatan Fena Leisela yang saat itu sedang berlangsung.

17 Maret 2014, itulah saat kami akan melakukan serpas (pergeseran pasukan) ke Danau Rana menggunakan sebuah truk logging dan mobil dinas jenis 4WD. Dengan kondisi langit cerah yang mendadak menjadi mendung berkabut, kami berangkat melintasi jalanan berbatu dan penuh dengan jurang yang telah dibuat oleh perusahaan penebangan kayu di sana. Kami terombang-ambing di atas truk logging tersebut sehingga membuat kami saling berdorongan akibat terpental. Mendadak kabut turun di gunung yang kami lewati. Udara dingin menyelimuti perjalanan kami. Melihat kondisi yang semakin buruk, ternyata hujan deras turun membasahi kami, tetapi kami segera menutupi diri kami dengan terpal besar. Kami menutupi diri dari hujan dengan terpal sambil jongkok dan mencoba menghangati diri dari dingin yang menusuk. Hujan reda dan kami baru menyadari bahwa ada jalan yang tidak bisa dilewati oleh truk logging ini. Kami segera turun sambil menuruni perlengkapan juga. Setelah melihat jalanan yang harusnya kami lewati tersebut, ternyata sangat berbahaya dan bisa membuat truk ini jatuh ke jurang. Setelah perjalanan hampir dari 2 jam tersebut, kami terpaksa berjalan kaki melintasi jalanan tersebut. Dengan tas gunung dan senapan yang sangat berat tersebut, kami melintasi hutan hingga akhirnya kami menemui tempat bermalam sebuah camp di perjalanan tersebut. Perjalanan 4-6 jam kami lalui dari sejak turunnya kami dari truk sampai dengan kami menemui camp tersebut. Kami segera bermalam dan menyiapkan makanan untuk makan malam. Perjalanan jauh berikutnya akan dimulai besoknya.

Gambar 6. Salah satu temanku, Rona, melintasi jalan dengan latar belakang gunung berselimutkan awan.

Gambar 7. Praka Rustam dan Serda Eko Saputra berjalan menyusuri turunan yang diliputi pohon besar.

Gambar 8. Tim Penjelajah yang ikut dalam Penjelajahan ke Danau Rana.

Gambar 9. Salah satu jurang yang kami lewati dalam perjalanan menuju ke Danau Rana.

Gambar 10. Salah satu anggota wanita Ekspedisi NKRI, mbak Wulan, dalam perjalanan menuju ke Danau Rana.

18 Maret 2014, kami melanjutkan perjalanan dari camp singgah sementara. Jalan yang kami lalui penuh dengan tanjakan dan turunan, lalu tanjakan, lalu turunan lagi, dan begitu seterusnya. Persediaan air sudah mau habis, dan jarak sumber air dari satu tempat ke tempat yang lainnya begitu jauh. Rombongan setiap tim masing-masing terpisah. Keringat membasahi pakaian saya, tanda bahwa saya benar-benar dehidrasi. Perjalanan yang begitu berat membuat kami sedikit-sedikit istirahat. Ketika kami menemukan sumber air bersih yang bisa dimanfaatkan untuk minum, kami bersyukur dan segera menyiapkan makanan untuk melanjutkan perjalanan kembali. Semakin lama, semakin banyak tim lain yang bergiliran datang karena beberapa dari mereka tertinggal jauh. Di saat kami mulai memasak nasi, kami melihat warga asli pedalaman Danau Rana lewat sambil membawa barang belanjaan mereka dari pesisir. Besarnya barang bawaan mereka membuat kami merasa lebih payah. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan yang kami kira tinggal beberapa menit lagi. Perjalanan tetap berat walaupun sudah terlihat Danau Rana dari balik pohon-pohon besar. Namun, sebenarnya jarak yang harus kami lalui masih penuh kelokan dan turunan beserta tanjakan. Setelah perjalanan jauh, terlihat ada jalan setapak yang menurun tetapi sangat curam. Hujan turun dan membuat kami terburu-buru untuk menghindari hujan deras. Ketika kami sudah sampai di dataran rendahnya, kami menyusuri sungai hingga akhirnya terlihat sebuah desa. Ternyata itu adalah Dusun Waegrahi yang berada di pedalaman Danau Rana. Ini menandakan bahwa perjalanan kami ini telah selesai, dan hal selanjutnya adalah kami dapat beristirahat setelah perjalanan jauh tersebut. Lama perjalanan sejak kami mulai berangkat dari camp tempat kami menginap sekitar 6-8 jam. Perjalanan kami dari sekitar pukul 7 atau 8an pagi berakhir pada sore hari. Kami segera ditempatkan di sebuah bangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Waegrahi. Melihat bahwa bangunan SMP ini dijadikan sebagai tempat tinggal kami, berarti aktivitas mengajar di SMP ini sama sekali tidak ada. Berarti anak-anak sini hanya belajar sampai tingkat SD saja. Melihat kondisi tersebut, kami merasa miris dengan kehidupan orang-orang pedalaman seperti ini. Sulitnya meraih pendidikan akan membuat mereka sulit untuk membangun desa-desa di pedalaman Danau Rana ini maju.

 Gambar 11. Upacara penyambutan tim Ekspedisi NKRI 2014 Subkorwil 3/Namlea di Dusun Waegrahi.

 Gambar 12. Foto bersama dengan warga setempat setelah upacara penyambutan selesai.

Gambar 13. Rona mengecek bangunan Sekolah Dasar (SD) di Dusun Waegrahi.

Kondisi kekurangan yang dialami oleh murid-murid SD di Dusun Waegrahi membuat kami berinisiatif untuk memberikan kegiatan belajar mengajar di sana. Kami menjadi guru sementara di sana selama kami melakukan pendataan. Selain menjadi guru, kami juga menjadi akrab dengan warga setempat, sehingga lebih layak jika kami dengan murid-murid sana sudah seperti teman saja. Selain mengajar, kami juga sering berburu buah-buahan di bukit-bukit belakang desa tersebut. Lokasi sungainya pun jernih untuk kita manfaatkan sebagai air minum dan mandi. Tetapi, yang membuat kami tidak nyaman hanyalah keberadaan babi ternak yang berkeliaran ke sana ke mari, apalagi saat tiba-tiba babi muncul di hulu sungai ketika kami sedang mengambil air minum. Namun, pengalaman ini menurut saya sangatlah berharga karena bisa saja saya hanya mengalami hal ini sekali saja dalam seumur hidup.

Beberapa hari di sana benar-benar berat dan juga menyenangkan, tetapi masih banyak hal yang harus kami lakukan untuk mengetahui keadaan lainnya di sisi Pulau Buru yang lain. Semoga saja petualangan berikutnya tidak terlalu berat.

 Gambar 14. Tim Komunikasi Sosial menuju ke Desa Waereman melintasi Danau Rana.

Beberapa hari setelah kami sampai ke Pos Kotis dari perjalanan pulang dari Danau Rana, tiba-tiba... KAMI DIMINTA UNTUK KEMBALI KE SANA?! Saya berharap hanya salah dengar, namun itulah yang terjadi. Tanggal 15 April 2014, kami kembali ke sana, berjalan kaki selama 8 jam lagi, dan tinggal di Dusun Waegrahi lagi. Tetapi, kali ini kami ditugaskan untuk membawa sembako dan barang-barang lainnya sebagai bentuk bakti sosial ke warga Dusun Waegrahi dan Desa Waereman yang terletak di sisi Danau Rana lainnya. Jika perjalanan sebelumnya saya hanya membawa tas berisi perlengkapan pribadi, kali ini ditambah dengan 3-4 buah kantong plastik berisikan barang sembako. Penderitaan tiada akhir, namun tetap kami jalani. Setidaknya, Perwira Seksi Operasional (PaSiOps) dan lainnya turut merasakan beratnya perjalanan setelah beliau mengira perjalanan tersebut bisa dengan mudah untuk dilewati. Perjalanan kali ini membuat saya semangat karena melihat PaSiOps kelelahan. Hahahahaha... * tawa jahat*

Cerita tentang perjalanan ke Danau Rana yang kedua cukup singkat saja mengingat perjalanan yang kami lalui sama saja. Hanya saja dengan tambahan barang bawaan berupa sembako tadi.

Cerita sisi utara Pulau Buru saat ini berakhir, dan berikutnya adalah sisi selatan Pulau Buru yang makin eksotis.

23 April 2014, kami berangkat ke tempat berikutnya, yaitu Namrole, Ibukota Kabupaten Buru Selatan. Jadi, Pulau Buru ini terbagi atas dua kabupaten, yaitu Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan. Perjalanan yang kami tempuh bisa dibilang lebih dari 6 jam. Perjalanan itupun sambil diguyur hujan deras, juga harus melewati licinnya jalan berlumpur, dan sambil menahan dinginnya udara selama perjalanan di bak terbuka kendaraan 4WD yang kami tumpangi. Sampai di Namrole, kami langsung makan malam setelah menjalani perjalanan yang amat cukup menyiksa tersebut. Di malam yang hampir buta, kami pun sempat mandi di sebuah aliran sungai yang jernih dekat kami tinggal. Di Namrole, mayoritas masyarakatnya adalah beragama Kristen, sehingga ini juga membuat saya sedikit sulit menemukan masjid, namun kegiatan kami selama di sini normal-normal saja. Kami sempat mendatangi desa-desa di Kecamatan Namrole, seperti Desa Waenewen dan Desa Ratawalu. Namun, kami hanya beberapa hari saja di Namrole. Setelah ini kami akan mendatangi Desa Leksula yang katanya jauh lebih indah, dan harus ditempuh menggunakan speed boat untuk sampai ke sana.

Gambar 15. Tim Komunikasi Sosial bersiap untuk berangkat menuju ke Desa Leksula.

Pagi hari sekali kami langsung bergegas menuju ke dermaga yang akan membawa kami ke Desa Leksula. Speed boat yang kami tumpangi pun sangat nyaman sekali karena adanya bantuan dari orang-orang sana. Perjalanan yang kami lalui menggunakan speed boat benar-benar keren. Banyak sekali tebing-tebing batu besar selama perjalanan. Melihat itu semua, tampaknya ada potensi besar terhadap wisata cliff diving di sana.

Gambar 16. Panorama alam yang indah di sisi selatan Pulau Buru.

 Gambar 17. Saya, Rona, dan Bayu yang baru saja sampai di Desa Leksula.

 Perjalanan singkat tadi benar-benar mengagumkan setelah melihat keindahan tebing-tebing sisi selatan Pulau Buru. Ternyata Desa Leksula juga tidak kalah indahnya dengan panorama alam yang kami lalui. Di Leksula, kami tinggal di salah satu orangtua piara Komandan Tim (Dantim) kami. Kami berencana tinggal selama sebulan di sana sambil melintasi sisi selatan lainnya. Kamilah yang pertama kali datang di Buru Selatan dan Desa Leksula ini. Sambil berkeliling, kami diperkenalkan ke orang-orang terdekat Dantim kami yang pernah bertugas di Pulau Buru saat kerusuhan Ambon tahun 1999 pecah. Akses pasar dan bahan makanan yang mudah terjangkau membuat kami cukup nyaman tinggal di sana. Kami juga melakukan pendataan di desa-desa lainnya yang berada di atas bukit sebelah utara Desa Leksula ini. Perjalanan menuju ke desa tersebut yang melelahkan, karena persediaan air minum kami yang cepat habis. Pendataan kami lakukan di Desa Leksula, Desa Waehaolon, Desa Waenamaolon, Desa Nalbessy, Desa Neath dan Desa Liang. Lokasi desa yang berjauhan membuat kami memang butuh waktu yang cukup lama untuk pendataan dan membuat laporan. Setelah beberapa hari kami di Leksula, akhirnya tim lainnya, yaitu tim Flora dan Fauna, datang juga. Beberapa hari setelahnya kami juga kedatangan PaSiOps, PaSJarah (Perwira Seksi Sejarah) dan anggota lainnya. Penempatan kami yang seharusnya bisa lebih lama terpaksa diselesaikan lebih cepat karena adanya perihal kedatangan Danjen Kopassus ke Pos Kotis kami. Jadi, kami terpaksa meninggalkan Desa Leksula yang begitu indah untuk dikenang.

 Gambar 18. Perjalanan panjang menuju ke Desa Neath dan Desa Liang di atas bukit.

Gambar 19. Perjalanan menanjak menuju ke Desa Waehaolon.

Gambar 20. Tampak gereja dari dermaga di Desa Leksula.

 Gambar 21. Tebing dan pulau-pulau kecil di Desa Leksula.

 Gambar 22. Dermaga yang ada di Desa Leksula.

 
Gambar 23. Berjalan-jalan mengelilingi Desa Leksula pada sore hari.

Masih ada keindahan alam yang terletak di balik Desa Leksula ini. Salah satunya adalah Air Babunyi yang terletak di sisi barat Desa Leksula. Letaknya agak sulit dijangkau, namun semua itu akan terbayarkan ketika kamu sudah sampai di sana.

 Gambar 24. Melintasi pantai untuk menuju ke Air Babunyi.

Gambar 25. Batuan besar di sekitar Air Babunyi.

Gambar 26. Pulau pasir kecil di antara lautan luas.

 Gambar 27. Pose anak-anak Tim Komunikasi Sosial di pantai dekat Air Babunyi.

 Gambar 28. Air Babunyi yang sebenarnya.

Gambar 29. Makan es pijang ijo favorit semua orang.

Gambar 30. Pamit dengan keluarga piara di Leksula.

Dari Desa Leksula, Kabupaten Buru Selatan, kami langsung kembali ke Pos Kotis untuk menunggu konfirmasi kedatangan Danjen Kopassus yang katanya akan datang. Ternyata sang jenderal berhalangan hadir dan kehadirannya diwakilkan oleh yang lain. Sayang sekali perjalanan panjang kami di Leksula harus berakhir, namun Danjen tidak bisa hadir di Pos Kotis kami. Terpaksa saya sedikit kecewa.

Sejak ketidakhadiran Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo, tim Komunikasi Sosial menjalani hari-hari di Pos Kotis dengan bermain game dan bertanding voli. Tidak ada yang spesial lagi setelah itu, sampai akhirnya kami mencoba melakukan pendataan lagi di Kecamatan Lilialy. Di kecamatan ini ada satu desa yang memiliki pantai yang memanjakan mata, namanya adalah Desa Jikumerasa. Desa Jikumerasa ini berada di Kabupaten Buru dan merupakan salah satu desa dengan wisata pantai paling potensial.

Gambar 31. Tim Komunikasi Sosial dengan Kepala Desa Jikumerasa.

 Gambar 32. Pantai Jikumerasa berpasirkan putih.

Gambar 33. Pantai Jikumerasa berlautkan biru aqua.

Beberapa dari kami ada yang harus menjalani kerja bakti membangun rumah warga, dan juga ada yang harus bertugas melakukan pendataan di desa-desa lainnya. Ketika tugas kami selesai, kami jalani hari-hari yang biasa di Pos Kotis kami. Namun, kami selalu bisa menikmati setiap harinya, karena kami mencoba menjelajahi lokasi-lokasi terdekat di sekitar Pos Kotis kami. Terkadang kita lari pagi sambil menemui orangtua piara kami di Desa Wamlana dan Desa Waitabi.

 Gambar 34. Menikmati pantai di sekitar Desa Wamlana.

 Gambar 35. Tempat istirahat yang paling nyaman di bawah pohon mangga embam.

Hari-hari berlalu, dan akhirnya tibalah saatnya kami kembali pulang. Kami segera bergegas mengemas barang dan melipat tenda yang telah kami tinggali selama 3 bulan lebih. Kami semua pamit ke orangtua piara kami di Desa Waitabi sebelum pergi. Akhirnya kami meninggalkan semua teman-teman dan kenangan kami di Pos Kotis dan lokasi penempatan kami. Ketika truk yang akan membawa pulang kami datang, sudah waktunya kami mengangkat tas menuju kepulangan kami ke Pulau Jawa.

Kami berangkat dari Namlea ke Ambon setelah tinggal beberapa hari di mess Kodim 1506 di Namlea. Di Namlea, akhirnya saya bisa melihat apa saja yang terjadi di Pulau Jawa setelah selama itu saya tidak dapat mengakses informasi ke dunia luar. Banyak hal yang telah berlalu di tempat kelahiranku dan di tempatku saat ini kuliah. Ternyata dari sekian banyak teman yang saya punya, teman-teman JUMPalitan (Parkour Jogja) membuat sebuah video di mana video itu didedikasikan buat saya juga. Saya jadi semakin tidak sabar ingin menemui teman-teman yang ada di Jogja kembali. *terharu*

Keberangkatan kami dari Namlea menggunakan kapal feri menuju Ambon, dan kami tinggal di mess TNI AU Lanud Pattimura selama tinggal di Ambon. Sesampainya di Ambon, kami seperti baru menemui peradaban kembali. Bersama kawan-kawan Subkorwil 3/Namlea, kami berkeliling kota Ambon sambil ditemani guide dari teman-teman mahasiswa UNPATTI sesama satu subkorwil. Ternyata memang tidak cukup sehari untuk berkeliling kota Ambon, namun banyaknya angkutan umum membuat saya bisa berkeliling kota Ambon dengan mudah. Walaupun udah sampai di kota Ambon, tetap saja saya masih bisa menemukan orang Jawa berjalan-jalan di sekitar sini.

 Gambar 36. Arus lalu lintas laut yang begitu ramai di Pulau Ambon.

Gambar 37. Keliling kota Ambon bareng Subkorwil 3/Namlea.

 Gambar 38. Jalan-jalan ke Museum Siwalima.

Akhirnya, dari langit kota Ambon yang begitu cerah terlihatlah pesawat Hercules yang begitu besar landing di Lanud Pattimura. Semua peserta Ekspedisi langsung bergegas memasukkan barang ke bagasi pesawat milik TNI AD tersebut. Di sana kami juga bisa kembali bertemu dengan teman-teman dari Subkorwil 1/Masohi, Subkorwil 2/Tual, dan Subkorwil 4/Saumlaki. Perbincangan yang kami lakukan hanya bisa sesingkat mungkin, karena kami semua terburu-buru menaruh barang bawaan kami ke bagasi pesawat. Ketika semua barang sudah dimasukkan, giliran kami yang masuk ke dalam pesawat Hercules. Ini sudah menjadi pengalaman naik pesawat Hercules milik TNI AD yang ke sekian kali dan tampaknya ini yang akan menjadi terakhir kalinya saya menaiki pesawat ini. Semoga saja ada kesempatan di lain hari untuk menaiki pesawat ini lagi.

Gambar 39. Perpisahan di Lanud Pattimura sebelum serpas ke Bandung.

Gambar 40. Suasana di dalam pesawat Hercules.

Perjalanan yang cukup lama dari Ambon transit ke Makassar dan lanjut lagi ke Bandung tentunya membuat kami lelah. Sampai di Bandung, kami langsung dibawa menuju ke Pusdikpassus Batujajar. Sudah 3,5 bulan berlalu dan akhirnya kami kembali ke sini lagi. Kali ini kami di sini bukan untuk pelatihan, tapi untuk pengumpulan laporan yang katanya masih belum selesai, dan akhirnya kami direpotkan karena masalah laporan ini. 😒

Hari-hari kami di Pusdikpassus Batujajar diisi dengan pertandingan sepakbola dan bola voli antar Subkorwil. Sayangnya, subkorwil kami justru kalah dari awal pertandingan dalam pertandingan sepakbola. Dalam pertandingan bola voli, kami justru lebih bersemangat, tetapi tetap saja belum bisa meraih posisi juara 1, bahkan belum masuk 3 besar. Walaupun kalah, namun kebersamaan ini yang saya nikmati karena semuanya tertawa bersama. Setelah itu kami tinggal menunggu upacara penutupan.

Upacara penutupan dilakukan sambil dihadiri oleh KSAD Jenderal TNI Budiman di Pusdikpassus Batujajar. Kami semua dipersiapkan sebaik-baiknya untuk menyambut orang nomor satu TNI AD itu. Segala pameran penelitian dipersiapkan untuk dilihat oleh beliau, dan saya juga mendapat kesempatan sebagai mahasiswa yang menyambut dan menyalami sang jenderal di awal kedatangannya. Kedatangan KSAD ke Pusdikpassus Batujajar membuat kami kewalahan agar acara berjalan dengan baik. Karena saya dan teman-teman lainnya harus menyambut KSAD di awal acara, jadi kami tidak perlu mengikuti upacara penutupan yang tampaknya begitu melelahkan dan panas. Jadi, kami hanya mengintip dari lewat jendela ruang pameran saja. 😛

 Gambar 41. Mahasiswa yang akan menyambut KSAD Jenderal TNI Budiman di Pusdikpassus Batujajar.

Saya kembali ke barak Raider yang menjadi tempat tinggal sementara kami di Pusdikpassus Batujajar. Sekarang ini tinggal menghitung jam sampai kami kembali ke rumah masing-masing. Tampaknya kami, para mahasiswa, belum tentu akan sempat melihat mereka lagi setelah mereka kembali ke satuan masing-masing. Saya pun hanya berharap mereka punya waktu untuk reuni tim kembali.

Ketika sudah memasuki hari kepulangan kami, semua orang bergegas untuk merapikan barangnya. Mereka akan kembali ke satuannya masing-masing, dan saya akan kembali ke Jakarta, karena keluarga saya sudah menunggu. Satu per satu kawan-kawan kami pulang. Teman-teman dari Kujang 2, Yonzikon 13, Kopassus, Yonif Linud 503, Paskhas, Marinir, Brimob POLRI, dan mahasiswa lainnya kembali ke asalnya masing-masing. Setidaknya saya masih sempat berpamitan dengan salah satu temanku seorang Brimob POLRI, yaitu Bharada Rizky. Pernah terucap oleh kami bila suatu saat kami akan bertemu kembali di Jakarta, namun akhirnya kawan baikku ini telah dipanggil terlebih dahulu oleh Yang Maha Kuasa. Almarhum Bharada Rizky meninggal akibat pembunuhan oleh gerombolan orang berambut cepak di kawasan Universitas Indonesia, Depok. Tidak ada yang bisa saya lakukan kembali selain mendoakan almarhum agar dapat diterima di sisi Allah SWT. Peristiwa yang membuat saya benar-benar shock dan berharap agar saya masih ada kesempatan untuk bertemu kawan-kawan Ekspedisi NKRI 2014 pada kesempatan waktu yang lain. Semoga saja.

Gambar 42. Bharada Rizky Dwi Wicaksono.

Jadi, inilah kisah saya selama Ekspedisi NKRI 2014 Koridor Maluku dan Maluku Utara. Pengalaman yang benar-benar banyak cerita dan sungguh penuh petualangan. Saya pun bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini akibat ajakan kawan baik saya dari JUMPalitan, Putra Ramadhan Manurung, yang pernah mengikuti Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi. Jika ada kesempatan, mungkin saya akan ikut kembali, namun kehidupan lainnya harus terus berjalan dengan penuh petualangan. 😉

Comments

  1. Nice post !
    Saya juga ingin sekali mengikuti ekspedisi ini dari tahun 2013 lalu. Tahun ini sudah daftar, tapi takdir berkata lain saya harus rela untuk kembali tidak ikut andil menjadi bagian dalam ekspedisi nkri (lagi) :(
    Paling tidak, cerita ini sudah bisa memberikan saya gambaran kegiatan disana. Terimakasih :)

    ReplyDelete
  2. Mksih...
    Papa sy dr kmp leksula...
    Tpi krna sy lahir dn bsar d papua...
    Bnyak hal tntang pulau buru yg gk sy ktahui... sy bru 1x pulkam k leksula. Di tahun 2010... tpi msih bnyak yg blm sy eksplor... brharpbsuatu hri nnti sy bsa blik lgi k kmpung halmanx papa d leksula n mengeksplor smwa yg dcritakan kakak... mksih

    ReplyDelete
  3. pengalaman yang sangat menarik
    saya sangat tertarik dengan ekspedisi ini

    ReplyDelete
  4. Hahahaha namlea namlea bom bom bim

    ReplyDelete
  5. baru baca Fey... jadi terharu gini inget pengalaman ini haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah dapat komentar pertama di tahun 2020 :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengikuti Manhaj Salaf

Pengalaman Gue Selama 1 Bulan di Jogja