Bajo, Ku Kan Kembali

Dua bulan.Ya, dua bulan adalah masa pelaksanaan KKN-PPM UGM 2013 yang berlangsung selama bulan Juli dan Agustus.Dua bulan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan untuk menyatu dengan kehidupan masyarakat desa di daerah yang agak pelosok atau bahkan terpencil. Kehidupan KKN ini yang akan mengubah cara pandang mahasiswa dan masyarakat. KKN ini yang akan membentuk karakter mandiri saya dan teman-teman sekitar. Dua bulan itu adalah masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan.

Tidak pernah terbayang lokasi di mana saya akan ditempatkan ketika nama desa Bajo terdengar dari rapat mingguan yang dilaksanakan oleh teman-teman KKN UGM Halmahera.Karena ada kata “Halmahera” ini, saya menganggap bahwa desa Bajo terletak di pulau Halmahera yang merupakan pulau paling besar di provinsi Maluku Utara. Walaupun masih belum terbayang seperti apa di sana, kami tetap harus fokus dengan pencarian dana dan logistik selama masa-masa sebelum pelaksanaan KKN. Hanya dalam hitungan hari yang terasa seperti hitungan detik, saya datang ke Rektorat UGM untuk mengikuti acara penerjunan mahasiswa KKN yang diadakan tanggal 28 Juni 2013 lalu. Waktu begitu cepat, sedangkan saya merasa persiapan yang ada dalam tim masih kurang karena belum cairnya dana. Hanya dengan bermodalkan uang talangan masing-masing, kami ber-23 berangkat menuju Jakarta terlebih dahulu.

Kembali ke Jakarta, kota yang padat dengan penduduk, kendaraan dan polusi. Kami yang telah sampai di Jakarta singgah terlebih dahulu di rumah saya sebelum menginap selama satu malam di bandara Halim Perdanakusuma.Semua barang logistik yang ada telah disimpan di gudang penyimpanan untuk keberangkatan dengan pesawat Hercules. Tinggal menunggu hitungan jam untuk merasakan terbang dengan pesawat Hercules yang lebih mirip seperti angkot terbang.

Pagi sekali kami berangkat menggunakan pesawat Hercules. Memang benar seperti angkot terbang, karena keadaannya bisa membuat orang-orang harus berdiri selama 2 jam sampai transit di Malang jika tidak mendapat tempat duduk. Perjalanan dari Malang ke Makassar juga membutuhkan waktu 2 jam. Dari kota yang sejuk dengan udara pegunungan menuju kota yang panas hingga membakar ubun-ubun. Tempat transit yang berikutnya adalah Gorontalo dengan waktu tempuh 2 jam. Setelah itu transit ke kota Manado selama satu malam. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mengenal kota Manado dan mencari oleh-oleh yang ada. Paginya kami berangkat lagi menuju pulau Morotai dengan waktu tempuh 2 jam. Hal yang tidak pernah saya duga, ternyata pulau Morotai ini jauh lebih panas dari pada kota Makassar. Sepanas apapun, teman-teman KKN sudah sangat semangat menuju lokasi KKN di desa Bajo, tapi kami harus ke Ternate dulu dengan kapal laut yang membutuhkan waktu satu malam perjalanan.

Pagi sekali, saya terbangun untuk sholat Shubuh dan melihat dua buah gunung yang menjulang tinggi dikelilingi lautan.Kapal ini telah sampai di Ternate dengan sebuah latar belakang pulau Tidore. Di kota ini, kami semua memanfaatkan kesempatan ini untuk jalan-jalan walaupun Cuma satu hari, karena malamnya kami berangkat lagi menuju pelabuhan Babang di pulau Bacan. Perjalanan ke pulau Bacan pun juga membutuhkan waktu satu malam, dan di sana kami menginap lagi satu malam di desa Tomori yang cukup dekat dengan kota Labuha. Keesokannya, waktu yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba juga.Dengan menaiki kapal cepat, kami melintasi desa Bajo yang perumahannya di atas laut. Cerita saya dan tim KKN UGM Halmahera ini pun dimulai.


Cuaca panas, rumah di atas laut, ikan yang melimpah ruah, itulah kehidupan di desa Bajo Sangkuang dengan suku Bajo yang mayoritas.Saya baru menyadari ternyata ada kata “Sangkuang” yang bisa diartikan sebagai kembali atau nyangkut. Kenapa nyangkut? Karena ada kemungkinan orang-orang yang pernah datang ke sini akan kembali untuk suatu hal. Entah itu karena rasa kangen terhadap lingkungannya, orangnya, atau karena hanya sekedar mencari jodoh. Akhirnya nama itu pun selalu terngiang-ngiang di kepala saya, Bajo Sangkuang.

Berawal dari perkenalan ke kepala desa, pak Ilyas, kami diantar satu per satu ke orangtua piara kami.Ada satu subunit teman kami yang ditempatkan di desa sebelah, desa Paisumbaos, yang sebagian besar dihuni oleh suku Makian. Saya ditempatkan di rumah pak Tato di komplek jembatan papan desa Bajo. Perkenalan waktu itu sangatlah canggung, tapi saya yakin tidak lama lagi akan bisa akrab dan menyatu dengan keluarga pak Tato.



Hari-hari sebelum memasuki bulan puasa selalu diisi dengan mandi laut atau biasa disebut dengan nama Batoboh oleh orang Bajo. Kemampuan berenang anak-anak sana memang tidak perlu diragukan lagi. Berbeda dengan para peserta KKN di Bajo ini yang mencoba peruntungan mereka karena tidak bisa berenang.Itulah perkenalan kami ke anak-anak Bajo yang menyambut kami dengan tawa dan keceriaan mereka di atas laut.

Bulan puasa pertama di rumah keluarga lain terasa canggung dan selalu sungkan untuk mengambil makanan sahur. Keseharian di minggu pertama juga masih disibukkan dengan rapat unit dan subunit untuk membahas program. Masih belum terbayang seperti apa program dengan tema pendidikan dapat dijalankan di desa Bajo ini, karena selama bulan Ramadhan itu sekolah libur dan banyak para siswanya memanen cengkeh di pulau seberang. Kesibukan saya juga hanya berada di perpustakan dusun Torosubang yang masih dalam bagian desa Bajo. Yang subunit kami lakukan cuma membaca dan mengajar siswa SD Torosubang secara informal, tapi saya melihat antusias anak-anak sana sangat besar dan banyak yang memiliki potensi untuk menjadi lebih pintar lagi. Keadaan ini terus berlangsung selama bulan Ramadhan. Kegiatan selalu diisi dengan TPA, matematika, IPS, baca tulis, bahasa Inggris dan lain sebagainya. Dengan bermodalkan buku perpustakaan, kami mengajari anak-anak sana tentang kehidupan di luar Bajo untuk meningkatkan antusias belajar mereka. Melihat canda dan tawa mereka ketika diajari merupakan surga dunia buat saya yang tidak pernah saya temui di lingkungan perkotaan.

Minggu pertama, kedua dan ketiga selalu bisa saya lalui dengan baik, karena saya selalu merasa nyaman dengan keterbukaan para pemuda dan anak-anak ke kami.Tapi, tetap saja ada yang mengeluh untuk pulang hanya karena susahnya menemukan tempat pemandian yang tertutup. Di sana, orang-orang mandi di tempat terbuka dengan air sumur, hal yang belum pernah saya lihat di perkotaan. Kebiasaan saya untuk beradaptasi di lingkungan sulit membuat saya menikmati apapun yang dijalani, termasuk mandi terbuka bersama warga sana.

Pendidikan adalah tema yang diajukan oleh tim KKN UGM Halmahera ini, jadi kami harus bisa membuat para siswa yang sedang menikmati liburan panjang untuk mengikuti Pesantren Ramadhan yang merupakan program unit kami.Setiap pukul 1 siang, kami mencoba mengumpulkan siswa ke masjid melalui pemberitahuan dengan pengeras suara.Yang tadinya sangat ramai dengan pesertanya, lama-kelamaan peserta Pesantren Ramadhan hanya ada dalam hitungan jari.Ini merupakan tantangan yang cukup berat karena bersamaan dengan panen cengkeh yang terjadi setahun sekali. Keadaan yang apa adanya seperti ini tetap kami langsungkan walaupun peserta pesantrennya sangat sedikit.

Subunit Torosubang ditugaskan di dusun Torosubang yang lokasinya di sebelah timur desa Bajo.Sebagian rumah-rumah di dusun ini berada di atas laut, dan jumlah penduduk suku Makian jauh lebih banyak dari pada suku Bajo. Walaupun berbeda suku, ada keharmonisan yang terjalin di sana. Dusun Torosubang memiliki SDN Torosubang dan SLTA Negeri 3 Bacan yang lokasinya bersebelahan. Anak-anak di sana selalu berkeliaran mengikuti ke mana mahasiswa KKN pergi. Semua orang di sana selalu tertarik untuk berkumpul dengan mahasiswa KKN. Banyak hal yang membuat kami merasa diterima masyarakat.



SDN Torosubang memiliki dua bangunan yang berisi 30-40 kursi di setiap kelasnya.Para siswa SD selalu berkeliaran di sekitar sekolah sebelum bel masuk berdenting.Bahkan, para siswa SD tersebut juga masih berkeliaran sampai jauh dari lingkungan sekolah karena terbatasnya para guru. Cara mengajar guru-guru sana juga terbilang keras karena murid-murid masih dipukul dengan tangan atau pun alat-alat yang ada. Mendiamkan anak dengan kekerasan bukanlah hal yang mendidik untuk mereka yang masih kecil, karena kekerasan seperti itu tidak memberikan pengajaran dan penyadaran untuk berperilaku baik. Jadi, kami menjadi guru di sana dengan cara mengajar yang berbeda dan lemah lembut agar para siswa paham tentang kesadaran diri. Itulah yang terbaik untuk mereka.

SLTA Negeri 3 Bacan merupakan satu-satunya sekolah SLTA di desa Bajo, sayangnya para guru di sana juga banyak yang tidak berada di Bajo. Kepala sekolahnya pun tidak tinggal di Bajo, melainkan di kota Labuha yang berada di pulau Bacan. Pendidikan gratis di kabupaten Halmahera Selatan ternyata tetap tidak dapat memberikan kualitas yang terbaik untuk orang-orang sana. Di Halmahera Selatan, biaya pendidikan dari SD sampai kuliah digratiskan oleh pemda Halmahera Selatan, sayangnya kualitas pendidikan di sana tidak sebagus dengan pendidikan di kota Ternate. Semua potensi para pelajar di Halmahera Selatan seperti terkubur karena hanya sekedar kualitas. Tapi, di balik kurangnya kualitas pendidikan di sana, ada satu nama yang mencuat karena dia berhasil menyisihkan 1000 orang lebih untuk dipilih menghadiri konferensi yang diadakan oleh majalah Bobo pada tahun ajaran 2012/2013. Anak itu bernama Irga.

Irgayanti Alkatiri, siswi kelas 7 SLTP Bajo ini pernah menghadiri konferensi yang berada di Jakarta. Saat itu dia masih menjadi siswa kelas 6 SDN Torosubang, dan dia berhasil menyisihkan 1000 lebih peserta lain yang ingin ikut konferensi tersebut. Siswi yang sering akrab disapa Irga ini membuat sebuah tulisan tentang sepeda motor masuk desa sesuai dengan tema “Keselamatan Di Jalan” yang diusung oleh majalah Bobo. Irga juga termasuk siswi yang berprestasi di SLTP Bajo.Kepintaran dia dibandingkan dengan teman-teman sekelas lainnya bagaikan jurang yang sangat dalam.Perbedaan yang sangat jauh ini menjadi permasalahan kami agar pemerataan kemampuan belajar dapat terjadi.

Setelah satu bulan terlewati selama di Bajo, akhirnya saya mengetahui bahwa anak-anak sana sangatlah pintar. Salah satunya yang mendapat perhatian saya adalah Ari, anak dari orangtua piara kami yang lain. Ari merupakan siswa SD Bajo yang sangat pintar di kelasnya dari cara membaca Al-Quran sampai ke hal akademik.  Mungkin karena kebiasaan memakan ikan itulah yang membuat anak-anak sana sangat pintar. Kendala yang ada hanyalah keberadaan gurunya saja.

Selama KKN di sana, kami bertemu dengan salah satu pengajar muda Indonesia Mengajar. Kami biasa memanggilnya dengan panggilan mas Thowi.Beliau adalah alumni FEB UGM angkatan 2007.Saat itu beliau sudah mengabdi hampir setengah tahun dan telah mengenal semua murid-murid ajarnya di SDN Torosubang. Antusiasme beliau sangatlah tinggi untuk mengajari anak-anak sana tentang berbagai hal di luar Bajo. Semangat beliau beserta visi dan misinya membuat semua anak-anak ajarnya menyukai beliau. Ini juga menjadi semangat para mahasiswa KKN UGM Halmahera untuk mengajar anak-anak Bajo sana menjadi lebih baik untuk ke depannya. Mungkin akan ada salah satu mahasiswa KKN UGM Halmahera akan menjadi pengajar muda Indonesia Mengajar pada tahun-tahun berikutnya.

Memasuki bulan Agustus, perhatian subunit Torosubang sudah mulai menuju pembangunan fisik seperti pembuatan dinding sumur dan plangisasi dusun Torosubang. Berkali-kali saya beserta warga sana menaiki kapal menuju pulau seberang untuk mengambil pasir kasar dan pasir halus. Kesempatan ini juga saya manfaatkan untuk melihat lautan yang indah dengan karang-karangnya.Saya yang selalu mendapatkan pelatihan fisik dari disiplin yang saya tekuni sebelum pelaksanaan KKN merasa inilah waktunya saya bisa berguna untuk orang-orang sekitar.Beberapa kali saya harus bolak-balik mengangkut kayu, pasir dan semen ke lokasi pembangunan fisik di dusun Torosubang.Sayangnya, tidak ada teman dari satu subunit saya yang memiliki waktu untuk mengangkat material-material tersebut seperti yang saya lakukan. Ah, mungkin saja teman-teman saya itu sibuk dengan kesibukannya mengajar di SD, itu saja yang selalu terlintas di pikiran saya agar tidak timbul rasa malas. Apapun yang terjadi, saya harus bisa berkontribusi juga dengan menyumbangkan tenaga saya untuk keberhasilan program subunit ini, sekalipun mungkin saya tetap tidak dihargai, itu lagi yang terlintas di pikiran saya.Banyak hal yang membuat saya serasa ingin menyerah, tapi tawa anak-anak dusun Torosubang itu telah menenangkan hati saya dari perasaan kecewa terhadap teman-teman KKN saya. Lagi, terlintas pikiran untuk tidak akan menyerah sekalipun tidak ada satupun yang melihat kerja saya. Hanya semangat yang muncul sekalipun badan dilanda sakit dan lecet.

Apa yang terjadi di Bajo selama saya sibuk mengurusi sumur di Torosubang? Subunit 1 Bajo dan subunit 2 Bajo di sana sedang membangun mega proyek gapura di dermaga desa Bajo. Kesibukan mereka diawali dengan memasang rangka besi dan papan cor. Pengecoran lebih banyak dilakukan oleh warga, bukannya mahasiswa KKN. Kemampuan membangun ini bisa dilakukan oleh semua pemuda dan bapak-bapak Bajo, sedangkan teman-teman KKN saya merasa bingung apa yang harus dilakukan. Kebiasaan mahasiswa untuk mengejar nilai, cepat lulus dan lain sebagainya ini membuat kami tidak memiliki kemampuan dan keterampilan seperti yang para warga Bajo lakukan. Walaupun kami mengatakan ke teman-teman lain bahwa kami bekerja, tapi sebenarnya kami hanya ditugaskan sebagai pengawas yang minim keterampilan dalam melakukan sesuatu.Kami merasa kurang berguna dalam pengerjaan berbagai pembangunan fisik karena kurangnya keterampilan kami, tapi inilah yang menjadi pengalaman kami dalam bekerja bersama masyarakat.Saya berharap mahasiswa dan para alumni UGM tidak hanya sekedar mengawasi pekerjaan yang ada, tapi dapat terlibat dalam pembangunan fisik yang ada di sekitar kita.

Beberapa hari sebelum penarikan mahasiswa KKN, saya menyempatkan diri untuk mengitari desa Paisumbaos, desa Bajo dan dusun Torosubang. Kesempatan ini selalu saya ulangi untuk terus mengingat orang-orang sana dan lingkungannya. Saya kembali mengingat ketika ke hutan di belakang desa mereka untuk mencari titik air bersama teman-teman Teknik Geologi. Yang selama ini teman-teman saya sebut hutan ternyata masih dibilang kebun oleh warga sana. Kehidupan warga sana selalu diiringi dengan yang namanya perjalanan jauh ke kebun dan laut berjam-jam untuk mencari penghidupan yang layak. Kehidupan di sana melahirkan pemuda-pemuda yang kuat dalam mencari penghasilan. Walaupun pekerjaan di kota sangatlah beragam tanpa harus mengeluarkan keringat sedikitpun, saya tetap memiliki kebanggan telah mengenal orang-orang hebat dari kepulauan Botang Lomang ini.

Hari-hari yang tersisa hanya ada dalam hitungan jari. Di saat seperti itu, keluarga-keluarga di Bajo dan Paisumbaos mengajak kami piknik sebagai tanpa perpisahan yang tidak akan dilupakan oleh mahasiswa KKN. Perjalanan ke pulau Ambatin, pulau Waindi, pulau Nusara dan pulau Nusadeket merupakan pengalaman yang tidak dapat dilupakan karena kebersamaan dan keindahan laut yang ditunjukkan.Berenang bukanlah hal yang utama saat itu, tapi tawa, canda dan rasa saling berbagi itulah yang membuat itu menjadi menyenangkan. Akan ada banyak hal yang membuat kami akan kembali ke desa Bajo. Entah apa itu kembali karena prospek usahanya, kenyamanannya atau kembali karena hati yang tertambat.Banyak cerita yang saya dapatkan, dan masih banyak cerita yang belum bisa saya utarakan. Saya mungkin akan kembali ke desa Bajo Sangkuang, karena saya telah nyangkut di sana.

Comments

  1. Gan ceritain dong pas kuliah teknik fisika di ugm gimana, trus agan kerja praktek atau magangnya gimana, ane pgn bgt masuk teknik fisika ugm

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

EKSPEDISI NKRI 2014: Pengabdian Beralaskan Tanah, Beratapkan Bintang (Bagian 2)

Mengikuti Manhaj Salaf

Pengalaman Gue Selama 1 Bulan di Jogja