EKSPEDISI NKRI 2014: Sejuknya Lembang, Hangatnya Buru (Bagian 1)

Di hari yang benar-benar tidak sibuk, sebagian besar mahasiswa membuka laptop mereka untuk menggunakan fasilitas WiFi kampus. Di mana ada internet, di sana pasti ada yang membuka laman Facebook mereka untuk sekedar chatting dan membuat status yang unik. Saya pun melewati mereka dan berharap tidak terjebak dengan kegiatan Facebook-an hingga berjam-jam seperti mereka. Hape saya berbunyi dan menerima pesan singkat dari teman yang sedang merantau di suatu tempat yang tidak saya ketahui di Sulawesi. Isi pesannya terlihat bahagia sekali, namun saya masih belum bisa membayangkan kegiatan apa yang telah dia lakukan selama dia menghilang dari dunia parkour. Isi pesan tersebut tentunya belum mendapat perhatian saya, karena waktu itu yang terpenting bagi saya adalah latihan parkour.

Hari demi hari pun berlalu. Setiap hari Minggu, saya menjalani latihan parkour dan renang bersama kawan-kawan Parkour Jogja. Namun, di pikiran saya selalu terlintas perjalanan seperti apa yang dilalui oleh teman saya, Putra Ramadhan Manurung, dalam Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi. Semua rasa penasaran itu terjawab setelah dia kembali ke Jogja menjadi anak kost lagi. Di kamar kost dia yang berantakan tersebut, saya melihat sebuah buku yang memuat kegiatan Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi. Setiap halaman di buku itu memuat gambar hutan, gunung, pantai, masyarakat dan lain sebagainya. Tulisan-tulisannya membuat saya penasaran di setiap kalimatnya. Di buku tersebut menggambarkan sebuah perjalanan selama 4 bulan yang benar-benar menakjubkan dalam pikiran saya waktu itu. Saya pun segera surfing ke dunia maya untuk mencari informasi mengenai ekspedisi ini. Kabar yang saya dengar waktu itu adalah kegiatan Ekspedisi NKRI 2014 akan dilaksanakan di Maluku dan Maluku Utara, tempat di mana saya akan kembali lagi untuk mengabdi.

Terkadang ada satu hari saya menjalani kegiatan paling sibuk dan harus mondar-mandir untuk menyelesaikan tugas, dan salah satunya bertepatan dengan sosialisasi Ekspedisi NKRI 2014 Koridor Maluku dan Maluku Utara. Putra yang pernah mengikuti Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi justru datang ke sosialisasi tersebut yang diadakan di UGM. Saya segera melaju dengan cepat menggunakan motor bebek kesayangan yang jarang diservis. Alhamdulillah, saya belum terlambat ke sana dan masih mendapatkan makanan ringan yang disediakan panitia. Saya melihat Putra sudah duduk dan mengajak saya untuk duduk di sebelahnya. Cerita dia mengenai ekspedisi yang dia lakukan membuat saya berapi-api untuk mengikuti ekspedisi berikutnya. Ketika acara sosialisasi hendak dimulai, terlihat para tentara baret merah dengan pangkat bunga dan juga pangkat satu bintang duduk sambil menyiapkan sambutan dan presentasi. Beberapa jam mendengarkan presentasi tersebut menjadi hal yang berarti buat saya, karena keinginan saya untuk mengikuti Ekspedisi NKRI 2014 Koridor Maluku dan Maluku Utara menjadi semakin besar.

Tibalah waktu di mana saya bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan Ekspedisi NKRI 2014 Koridor Maluku dan Maluku Utara. Layar laptop dibuka dan web formulir pendaftaran segera diisi. Kegugupan melanda ketika saya mencoba mengetikkan kolom-kolom yang belum saya ketahui isinya. Pengisian ditunda dan saya mencoba menanyakan ke orangtua saya mengenai perihal tersebut. Ternyata itu adalah hal yang mudah dijawab oleh orangtua saya dan pengiriman biodata ke panitia Ekspedisi NKRI 2014 secara online telah berhasil . Sisanya adalah tinggal mengirimkan berkas-berkas seperti esay, surat pernyataan, surat izin dan lain sebagainya yang menurut saya cukup merepotkan. Izin dari kampus pun juga diperlukan untuk mengikuti kegiatan ini, sampai di mana saya seperti direndahkan oleh dosen yang lebih menyukai kegiatan akademis daripada kegiatan ekspedisi seperti ini. Izin berhasil didapatkan dan berkas-berkas tersebut berhasil dikirim dalam satu amplop ke alamat yang dituju. Saya langsung bersyukur karena beban pertama tersebut berhasil dilewati dengan baik. Berikutnya adalah menunggu konfirmasi dari panitia apakah saya diterima atau tidak.

Penantian yang cukup panjang mengenai penerimaan tersebut memberikan hasil kecewa, karena sampai hari-H pun belum ada pemberitahuan hasilnya. Ternyata pemberitahuan tersebut justru molor dari jadwal. Pesan singkat (SMS) yang masuk ke hape saya memberitahukan bahwa saya diterima. Saya tidak langsung kegirangan karena yang SMS ini justru dari Putra yang terkadang suka ngibul dan bercanda. Namun, kali ini bukanlah candaan, justru kenyataan bahwa saya lolos dalam tes administratif dan diharapkan untuk datang ke Pusdikpassus Batujajar pada tanggal yang ditentukan. Keberangkatan dari Jogja bersama mahasiswa-mahasiswi UGM langsung direncanakan, dan akhirnya semua memutuskan bahwa perjalanan akan dilakukan menggunakan kereta api. Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk selama perjalanan dari Jogja ke Bandung, mahasiswa-mahasisiwi UGM tersebut tetap harus datang tepat waktu sesuai jadwal yang ada. Pukul 08.00 WIB kami harus berada di Pusdikpassus Batujajar.

Angka 7 di jam kami menandakan bahwa hanya tersisa 1 jam lagi untuk melapor ke panitia Ekspedisi NKRI 2014. Teman saya ada yang panik karena takut telat, dan saya pun juga termasuk orang yang panik. Angkot yang kami tunggu pun masih belum kunjung datang. Mobil Kopassus yang seharusnya menjemput peserta Ekspedisi NKRI 2014 di jalan justru tidak melihat kami yang terlihat lusuh. Angkot demi angkot melewati kami, dan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sebuah angkot yang melewati Pusdikpassus Batujajar akhirnya muncul di tengah ramainya kendaraan yang lalu lalang. Tas-tas segera dimasukkan, dan kawan-kawan saya ini duduk sempit-sempitan. Mendengar suara mesin angkot yang tersendat-sendat, rasa cemas saya semakin besar jika angkot ini mogok di tengah jalan. Sekitar setengah jam perjalanan dengan angkot tersebut, akhirnya kami melihat sebuah tanda yang terpampang besar. ANDA RAGU-RAGU KEMBALI SEKARANG JUGA! Slogan yang mantap terpampang di pinggir jalan tidak jauh dari Pusdikpassus Batujajar. Terlihat gerbang Pusdikpassus Batujajar dengan tulisan “Idjon Djanbi” terpampang besar. Kami masuk ke dalam Pusdikpassus tanpa tahu arah. Setelah diajak mutar-mutar di komplek oleh teman saya yang juga tidak tahu arah, akhirnya kami diarahkan oleh PROVOST ke gedung tempat latihan pembinaan jasmani anggota KOPASSUS. Kami menunggu dan menunggu tanpa tahu pemberitahuan apa lagi selanjutnya. Pemberitahuan yang kami dapat adalah kami ditempatkan di Barak RAIDER yang terletak di belakang lingkungan Ksatrian Pusdikpassus. Kami semua berebut tempat tidur di barak kami. Hari itu langsung menjadi hari pertama kalinya saya tidur di barak bersama para tentara dan mahasiswa.

Siang nanti sebuah tes psikologi menjadi beban buat pikiran saya, karena saya memang sudah malas berpikir lagi dan hanya ingin melaksanakan kegiatan yang berbau fisik. Tes psikologi tersebut terasa membuat otak terbakar. Bermunculan juga mahasiswa yang baru datang dari berbagai daerah. Ada yang langsung melaksanakan tes fisik dan melanjutkan dengan tes lainnya, dan ada juga yang hanya melakukan satu tes saja. Wawancara juga membuat beberapa calon peserta gugup dengan ucapan yang akan mereka bawakan. Saya sendiri cukup percaya diri dengan wawancara ini, karena saya ingin melanjutkan program pendidikan lagi di Maluku dan Maluku Utara sana. Tes demi tes kami lalui hingga akhirnya kami bisa dibawa menuju ke Situ Lembang, tempat latihan Kopassus yang sangat tersembunyi. Dinginnya udara Situ Lembang membuat kami langsung menggunakan jaket. Ternyata  Pusdikpassus di Situ Lembang memang benar-benar luas dan asri. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sini, tempat yang tidak bisa didatangi oleh warga sipil biasa. Rasa lelah selama perjalanan dari Batujajar ke Situ Lembang langsung dihajar dengan tidur lebih cepat. Saya berharap kegiatan dapat berjalan dengan baik hingga 2 minggu ke depan.


 Gambar 1. Mahasiswa dari berbagai daerah berkumpul bersama dengan tentara dan brimob

Gambar 2. Sub korwil 3/Namlea berpose bersama

Pukul setengah 5 pagi terlihat tentara dan mahasiswa mulai bersiap-siap untuk melakukan senam pagi sesuai instruksi dari panitia Ekspedisi NKRI 2014. Dinginnya udara pagi Situ Lembang membuat orang-orang ada yang melapisi bajunya hingga 3 lapis. Senam pagi selama setengah jam cukup membuat kami hangat, apalagi setelah ditambah lari keliling lapangan hingga 5 kali. Kami merasakan dinginnya Situ Lembang dari baju lapis 3, baju lapis 2, baju selapis hingga tanpa baju, alias telanjang dada bagi yang pria saja. Selesai lari pagi pun, kami juga ada “balap lari” setelah apel pagi. Kami semua balap lari demi sarapan pagi dan kerupuk. Kerupuk yang diborong pas tidak tanggung-tanggung. Nasi, lauk pauk dan sayur pun lengkap disajikan untuk para calon peserta di Pusdikpassus Situ Lembang. Kebanyakan orang makan seperti orang mau balas dendam, nasi dan lauk dibuat “menggunung”. Pengalaman setiap pagi itu justru serunya selalu di situ, senam pagi dan balap lari.

Kegiatan kami umumnya adalah diberikan materi kuliah oleh para ahli yang ikut dalam Ekspedisi NKRI 2014. Dari pukul 8 pagi hingga 9 malam selalu diisi oleh kuliah. Inilah kegiatan yang terberat di ekspedisi yang saya jalani, yaitu mengikuti kuliah tanpa ketiduran di setiap pemberian materi apa pun. Anggap saja 30% materi kuliah yang saya hadiri justru membuat saya ketiduran. Lelah memang tidak bisa ditahan. Yang membuat saya melek justru saat kegiatan diisi oleh personil TNI yang mengisi acara untuk Ekspedisi NKRI 2014. Di saat itulah saya bisa meneriakkan yel-yel paling kencang dan semangat. Selalu terbayang seruan “NAA... NANAA... NANANANAA...!” dan “AYO MAJU EKSPEDISI..!”. Saya selalu lantang meneriakkan yel-yel, apalagi saat KASAD dan Danjen Kopassus yang datang. Saya pun juga harus belajar mempelajari yel-yel baru setiap pindah sub korwil satu ke sub korwil lainnya. Ada sub korwil Masohi, Tual, Namlea, Saumlaki, Ternate, Tidore, Tobelo dan Labuha. Setiap sub korwil ada keunikannya masing-masing, dan saya selalu semangat ketika kami meneriakkan yel-yel. Semua mahasiswa belum dipilihkan akan mendapatkan sub korwil mana, jadi kami saling mengakrabkan diri setiap pindah sub korwil ke semua tentara dan brimob yang ada. Ada tentara dari Kopassus, Kostrad, Kodam dari berbagai tempat, brimob dan lain-lain, tapi mereka semua adalah pasukan elit di masing-masing kesatuannya. Saya yang masih penasaran akan ditempatkan di mana tiba-tiba dipanggil oleh panitia untuk masuk ke sub korwil yang akan diberitahukan ke semua mahasiswa. Sub korwil 3/Namlea menjadi tempat yang akan saya datangi. Di peta justru sub korwil tersebut menunjukkan ke arah Pulau Buru. Saya belum dapat gambaran seperti apa Pulau Buru itu. Pulau Buru terlihat besar jika mau disamakan dengan Pulau Bali. Saya pun belum mengenal baik para personil sub korwil 3/Namlea, tetapi ada teman mahasiswa satu barak saya yang tergabung juga ke sana. Kami sama-sama di setiap kegiatan mencoba mengakrabkan diri dengan personil sub korwil 3/Namlea. Simulasi latihan menjadi ajang kami untuk saling bekerja sama dan mengenal satu sama lain. Lokasi simulasi yang akan dijalani sub korwil kami justru yang paling jauh dibandingkan sub korwil lainnya. 40 menit jalan kaki tetap berasa jika sepatu yang digunakan adalah sepatu tipis bermerek Kodachi yang harganya hanya sekitar 40-70 ribu rupiah. Lokasi yang jauh tersebut menjadi base camp sementara untuk simulasi ini saja. Malam yang gelap dan dingin saya rasakan dengan baju tipis yang saya gunakan. Dalam satu atap terbuat dari ponco, saya bertemu dengan bang Rustam dan bang Rizky. Bang Rustam ini adalah tentara Kostrad Linud 503 yang dulunya berharap ingin menjadi Brimob, namun gagal. Bang Rizky adalah seorang Brimob yang justru dulu berharap bisa menjadi seorang tentara. Cerita dari abang-abang tersebut membuat malam itu cukup memberi kesan yang menarik. Ada-ada saja nasib mereka yang justru kebalikan dari cita-cita mereka. Malam itulah saya bertemu bang Rizky yang berpangkat Bhayangkara Dua dan bang Rustam yang berpangkat Prajurit Kepala. Cerita tersebut kami lanjutkan kembali pagi harinya hingga beralih ke topik-topik lainnya. Cerita selama perjalanan ke tempat kami berkumpul lagi di Pusdikpassus Situ Lembang membuat kami tidak merasakan lelah. Kami tiba di lapangan upacara tepat waktu setelah berjalan dengan langkah panjang. Hari itu menjadi hari terakhir kami di Situ Lembang. Sorenya kami disucikan dengan air Situ Lembang yang benar-benar dingin dan membuat pakaian kami basah semua. Kembali ke barak, cucian sudah berjejer di tali gantungan. Banyak juga tentara yang langkahnya cepat buat cuci pakaiannya. Dengan pakaian yang masih setengah basah dan setengah kering, saya simpan saja pakaiannya langsung ke tas untuk mempersiapkan diri kembali ke Batujajar. Penutupan di Pusdikpassus Situ Lembang memang tidak akan terlupakan. Selain kebersamaan diantara para tentara dan mahasiswa, ternyata kami juga mendapatkan air aliran sungai dari Situ Lembang yang dinginnya menusuk tulang. Lagi, saya meneriakkan yel-yel agar badan tetap hangat setelah acara mandi beserta baju-bajunya dengan air Situ Lembang.

 Gambar 3. Saya berpose dulu sebelum keberangkatan dari Bandara Husein Sastranegara

Batujajar tempat kami berkumpul kembali sebelum keberangkatan. Tas tambahan yang diberikan saat di Pusdikpassus Situ Lembang bisa memuat barang-barang saya yang sebelumnya sudah sangat penuh hanya dengan dua tas. Saya kembali ditempatkan di barak Raider yang jauh dari lingkungan Ksatrian. Setiap rasa kantuk menyerang, tiba-tiba ada panggilan untuk kumpul bagi semua mahasiswa maupun setiap tim sub korwil. Sebuah wejangan dari Danjen Kopassus turut memberikan semangat juga bagi mereka yang sudah terkantuk-kantuk. Beberapa hari di sana hanya untuk menunggu tanggal keberangkatan. Hari yang panas di Batujajar pun makin memanas ketika juga ada pengumuman kelulusan peserta Ekspedisi NKRI 2014. Ada yang dipulangkan, ada yang diterima dengan suatu syarat, bahkan eberapa teman ada yang pindah dari tim peneliti menjadi tim komunikasi sosial dan sebaliknya. Ada pula yang berganti sub korwil. Perpindahan ini membuat bingung karena seperti harus mengospek mahasiswa baru. Kami juga dibagi beberapa kelompok untuk mereka yang akan berangkat duluan menggunakan pesawat long body dan short body. Pergeseran pasukan ke Bandara Husein Sastranegara juga menjadi hal yang merepotkan. Kami semua harus bangun dari jam 3 pagi untuk keberangkatan pada pagi harinya. Tas langsung ditumpuk ke dalam truk yang akan mengarah ke bandara. Hampir semua peserta terkantuk-kantuk dalam perjalanan. Ketika sampai pun kami semua memasukkan tas ke dalam pesawat. Saya kebagian pesawat Hercules short body. Di dalam pesawat Hercules ini, kami semua duduk dan tidur di tumpukan tas seperti kumpulan bantal yang berserakan di kasur. Kami transit di Makassar walaupun sebentar, dan berangkat lagi menuju ke Ambon. Jam sudah saatnya diganti menjadi Waktu Indonesia Timur dan terlihatlah pulau-pulau kecil dari jendela bundar pesawat Hercules. Perjalanan jauh ini sudah dinanti-nantikan oleh semua mahasiswa untuk tahu bagaimana Indonesia yang ada di timur sana. Saatnya kami melakukan ekspedisi yang sebenarnya bersama dengan mahasiswa lain,  beserta semua pasukan dari TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Brimob POLRI.

Bersambung

Comments

  1. Lucky you kal, pernah ngerasain ke Situ Lembang

    ReplyDelete
  2. cerita selanjutnya gak ada nih, mas? --a

    ReplyDelete
    Replies
    1. EKSPEDISI NKRI 2014: Pengabdian Beralaskan Tanah, Beratapkan Bintang (Bagian 2)

      http://feikalaprieza.blogspot.com/2015/01/ekspedisi-nkri-2014-pengabdian.html

      ;)

      Delete
  3. Gan, keren pengalamannya..
    Katanya walaupun semua biaya ditanggung, tetep dapet uang saku juga ya ?
    infoin donk, uang sakunya berapa ya diterima per bulan ? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf telat reply, uang saku pasti dapat kok, dan kebetulan wakil komandan subkorwil saya baik banget sampai cari tambahan uang saku buat anggota sipilnya ☺
      Biasanya 30rb uang makan, 5rb uang saku, tapi saya waktu itu dapatnya 15rb per hari. Untuk yang Papua ini sih kayanya lebih banyak uang makan dan sakunya (ya iyalah..😂)

      Delete
  4. Mau tanya dong, untuk mengikuti ekspedisi NKRI ini apakah memiliki persyaratan fisik tertentu? misalnya ada batas minimal tinggi badan dan mata tidak minus

    ReplyDelete
  5. mas boleh tanya2 gk.minta kontaknya

    ReplyDelete
  6. mas boleh tanya2 gk.minta kontaknya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

EKSPEDISI NKRI 2014: Pengabdian Beralaskan Tanah, Beratapkan Bintang (Bagian 2)

Mengikuti Manhaj Salaf

Pengalaman Gue Selama 1 Bulan di Jogja