Renungan Tentang Parkour

Hanya sebuah curhatan, mungkin saja Anda bisa merenungkan curhatan saya.

Waktu itu temen gue anggap aja si W bilang ke gue, "Kal, masih ikut parkour lo?".
Gue jawab aja, "iya". Temen gue si W bilang, "rajin banget lo masih ikut! haha".

Gue yang tipe orang berprasangka buruk berpikir bahwa dia menganggap remeh yang gue lakukan, kata-kata dia seperti menyuruh gue untuk mundur saja. Tapi gue bukan orang yang menjalani kehidupan gue dengan setengah-setengah, gue akan tetap berusaha melalui segala obstacle, secara bertahap gue lakukan itu, apapun itu resikonya.

Temen gue yang lain anggap aja si I bilang ke gue, "Kal, ayo latihan parkour lagi".
Gue jawab dengan semangat, "yuk, katanya kan lo berminat parkour, ayolah latihan bareng aja di Senayan".
Temen gue jawab, "ah gue males di Senayan, jauh, latihannya fisik mulu, di Depok aja deh latihannya lebih banyak teknik".
Gue jawab agak rada kecewa, "yaudahlah terserah lo".

Dari sini bisa disimpulkan bahwa teman gue itu blom tau untuk apa parkour itu dan blom menjiwainya secara benar, dan dia hanya bisa berpikir instan aja. Sebenarnya mau Parkour Depok ataupun Parkour Jakarta sih sama aja buat gue, cuma beda tempat doang kok. Tapi gue udah kerasan aja di Senayan walaupun jauh. Gue harap lama-kelamaan dia bakal mengerti seperti apakah jiwa dari parkour yang sebenarnya?

Temen gue si W bilang ke gue, "Kal, ayo dong tunjukkin gaya lo parkour!".
Gue cuma bilang, "gue ga bisa".
Temen gue bilang. "ah cupu lo Kal".

Gue gatau waktu itu harus ngomong apa pas ditanya seperti itu, dan akhirnya cuma bilang ga bisa karena emang gue ga bisa. Gue blom cukup bisa untuk melakukan gerakan yang blom gue pelajarin.
Setelah latihan agak lama bersama Parkour Jakarta, para instruktur mengatakan bahwa parkour bukan sebagai ajang untuk show-off, bila ada teman yang menyuruh kita untuk pamer tapi kita merasa blom cukup mampu, cukup bilang ga bisa karena itulah yang lebih baik.
Dari situ gue baru tahu bahwa gue udah berkata benar untuk berkata tidak bisa, karena kita harus tau batas limit kemampuan kita dan kita harus tau resiko seperti apa yang akan ditanggung. Gue banyak mendapat inspirasi setelah mengikut parkour beberapa bulan ini. Mungkin ini salah satu manfaat ikut parkour kali ya.

Temen gue si S bilang, "Kal, udah bisa blom lo ini?" (menunjukkan vault dia).
Gue bilang, "blom".

Pasti iri melihat orang bisa melakukan apa yang kita tidak bisa. Gue hanya diam saja pas melihat aksi temen gue itu, tapi gue mencoba mempraktekannya di rumah. Berusaha keras dan keras. Tapi gue orangnya takut dibilang sok pamer jadi gue ga show-off kaya temen gue itu. Yang penting gue udah bisa dan cukup gue saja yang tahu tentang itu. Karena gue selalu berpikir, parkour bukan untuk ajang pamer, cari duit atau apapun itu yang bersifat tidak menyenangkan. Parkour untuk jiwa lo sendiri.

Temen gue si A bilang, "Kal, gue ga yakin deh bisa parkour, ga mampu kayanya gue lewatin temboknya aja".
Gue bilang, "jangan patah semangat lah, semua dilakukan secara bertahap, trus tingkatin basic-nya biar bisa".

Jangan lah berpikir pesimis karena itu lah mental block Anda dalam melewati obstacle. Coba lah untuk menentang apa kata otak Anda dan turutilah apa yang badan Anda mau lakukan. Bila otak melarang kita untuk melakukan hal yang mudah, maka kita tidak akan berkembang, hanya diam di tempat. Tekan terus batas limit Anda tapi jangan lah melewati batas limit Anda.

Sekian sari saya, semoga curhatan saya memberi banyak inspirasi bagi para traceur. Jadikan lah parkour sebagai gaya hidup, maka kemungkinan hidup Anda akan menjadi lebih baik.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

EKSPEDISI NKRI 2014: Pengabdian Beralaskan Tanah, Beratapkan Bintang (Bagian 2)

Mengikuti Manhaj Salaf

Pengalaman Gue Selama 1 Bulan di Jogja